PENYIMPANGAN AJARAN SYI`AH
11.
PENYIMPANGAN FAHAM TENTANG ORISINILITAS AL-QURAN
Para ulama syi`ah seperti al-mufid, al-qummi, abu manshur
Ahmad bin ali al-thabarsi dll. Menyatakan bahwa Al-quran yang ada saat ini
telah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan sehingga tidak sesuai
dengan naskah aslinya seperti yang dikumpulkan Ali (menurut mereka), Al-quran
yang ada sekarang adalah palsu.
Ni`matullah Al-jazairi menyatakan bahwa semua imam syi`ah sepakat adanya
perubahan dalam Al-quran, kecuali pendapat Murtadha, Al-shaduq, dan Al-thabarsi
yang mengatakan bahwa tidak ada perubahan, dalam keterangan selanjutnya dia
mengatakan bahwa ulama yang berpendapat tidak ada perubahan dalam Al-quran itu
sedang ber-taqiyah.
Pandangan ulama`
Para ulama menyatakan dengan tegas bahwa Al-qur`an yang dipegang dan
diamalkan ummat islam saat ini diseluruh dunia adalah asli, tidak ada
penambahan dan pengurangan, Allah langsung yang menjamin keasliannya ‘sungguh
kami yang menurunkan Al-quran dan kami pula yang akan menjaganya” (QS. Al-hijr: 9) keyakinan
inilah yang menjadi prinsip yang dipegang seluruh ummat islam.
Al-qadhi bin Iyadh,
Abu Usman Al-haddad, ibnu qudamah, ibnu hazm, dan ulama-ulama lainnya dari
kalangan ahli tauhid telah bersepakat atas kekafiran orang yang mengingkari
satu surah, atau ayat, atau kata, atau huruf dari Al-quran.
Ibnu Abi Daud As-sijistani
meriwayatkan 2 atsar dari Ali bin abi thalib yang memuji kebijakan khalifah
usman bin affan yang membakar mushaf-mushaf selain kodifikasi mushaf usmani “jika
usman tidak melakukannya, maka saya yang akan melakukan itu” tegas Ali, ini
membuktikan ijma` para sahabat Nabi (termasuk Ali dan ahl bait nya) dan seluruh
umat islam atas kodifikasi mushaf Usmani.
Selain itu, ragam
qiraat Al-quran yang popular disebut “qiraat sab`ah” salah satu syarat
mutlak qiraat dapat diterima adalah kesesuaian qiraat dengan system penulisan
mushaf usmani yang telah disepakati para sahabat, ibnu Al-jazari mencatat ada 4
jalur sanad dari qiraat sab`ah yang bersumber dari Ali dan ahl bait:
Ø Qiraat Abu amr bin al-ya`la,
dari nashir bin ashim dari yahya bin ya`mur, keduanya menerima qiraat dari abu
aswad ad-duali dari Ali bin abi thalib
Ø Qiraat ashim bin abi nujud,
dari abu abdirrahman as-sulami yang menerimanya langsung dari Ali bin abi
thalib
Ø Qiraat hamzah az-zayyat,
dari ja`far as-sadiq dari Muhammad Al-baqir dari Ali zainal abidin dari
Al-husain dari Ali bin abi thalib
Ø Qiraat al-kisa`i,
dari hamzah az-zayyat dengan jalur sanad seperti jalur sanad pada poin 3 diatas
Dengan jalur-jalur sanad itu dapat kita pastikan bahwa ahl bait
tidak keluar dari ijma` kaum muslimin yang menyepakati otoritas mushaf usmani.
22. PENYIMPANGAN
FAHAM TENTANG AHL BAIT RASUL DAN MENGKAFIRKAN SAHABAT NABI
Ulama-ulama syi`ah seperti Ni`matullah al-jazairi, Al-kulani,
Al-iyasyi, Al-majlisi, Al-khumaini dan lain-lain telah melontarkan fitnah dan
tuduhan keji kepada para sahabat Nabi terutama Abu bakar, Umar, Aisyah dan
Hafshah disertai cacian-cacian dan makian terhadap mereka, bahkan
terang-terangan Al-khumaini mengatakan bahwa Aisyah, thalhah, zubair, muawiyah
dan shabat-sahabat lainnya bahwa mereka lebih buruk dan menjijikkan daripada
anjing dan babi.
Diindonesia, berbagai
publikasi syi`ah juga telah memfitnah, menjelek-jelekkan, melaknat, bahkan
mengkafirkan sahabat Nabi, yang kesemuanya itu merupakan tuduhan dusta dan
fitnah yang sangat keji terhadap sahabat Nabi yang berdasarkan imajinasi dan
cerita-cerita bohong, serta bentuk penodaan terhadap agama dan sejarah islam.
Pandangan ulama`
Seluruh ulama Islam
meyakini bahwa seluruh sahabat Rasul adalah orang mulia yang telah dipuji Allah
dalam Al-quran, dan bahkan Rasulullah menegaskan larangan mencela para sahabat
sebagaimana diriwayatkan oleh Al-bukhari, Rasulullah juga secara khusus telah
menjamin surga untuk 10 orang sahabatnya yang paling utama, dan khulafa`
Rasyidin termasuk didalamnya, seluruh sahabat adalah orang mulia yang telah
menyertai Rasulullah dalam berdakwah, dan telah mengorbankan jiwa, raga, dan
harta mereka demi agama Allah, sehingga ummat islam menjadikan mereka sebagai
panutan setelah Rasulullah.
Imam Abu ja`far
at-thahawi menyatakan “kita mencintai para sahabat Rasulullah dan tidak
berlebihan dalam mencintai salah satu dari mereka, kita tidak berlepas diri
dari mereka, kita membenci orang yang membenci mereka dan menyebutnya tidak
baik, kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan, mencintai mereka
adalah agama, iman, dan ihsan, membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan
dan sikap melampaui batas.”
Oleh sebab keutamaan itulah para sahabat Nabi dinilai `adil dan
periwayatan mereka diterima tanpa perlu bersusah payah mencari keadilan dan
kebersihan mereka, dalam pandangan ulama 4 madzhab, tindakan mencaci apalagi
mengkafirkan sahabat Nabi sangat tercela dan dikecam,

0 Komentar