Syi`ah Rafidhah
Syi`ah Ali generasi awal adalah kaum muslimin
yang lurus dan tidak mencaci keutamaan para sahabat Nabi, dalam perkembangannya,
syi`ah Ali yang murni ini tidak bertahan lama, dan pada abad berikutnya menjadi
sarang persembunyian musuh islam dan para pendengki yang hendak berbuat makar
kepada kaum muslimin, dan mereka mulai mencaci para sahabat Nabi terutama Abu
bakar dan Umar, karenanya para ulama menyebut orang yang menjelek-jelekkan dan
menolak Abu bakar dan Umar sebagai Rafidhah.
Secara umum
Rafidhah adalah kelompok syi`ah yang mendukung ahl bait namun salah dalam
mempersepsikannya dengan menolak dan mencaci Abu bakar dan Umar serta sebagian
besar sahabat yang mereka klaim telah menentang wasiat penunjukkan Ali sebagai
penerus Rasulullah. Imam Abu Al-hasan Al-asy`ary mengatakn bahwa sebab syi`ah
Itsna Asyariah dinamakan Rafidhah adalah karena mereka menolak kepemimpinan Abu
bakar dan Umar, oleh karenanya maka ahlussunah, syi`ah Zaidiyyah dan Ibadhiyah
menyematkan gelar Rafidhah kepada syi`ah Istna Asyariah dan syi`ah Ismailiyyah.
Para pakar
perbandingan aliran islam mencatat bahwa syi`ah terbagi dalam 3 golongan:
1. 1. Syi`ah Ghaliyah (ghulat), yang berpandangan ekstrim terhadap Ali bin
abi thalib bahkan sampai pada taraf penuhanan, kelompok ini jelas sesat dan
kafir.
2. 2. Syi`ah Rafidhah, yang mengklaim adanya teks wasiat penunjukkan
Ali sebagai penerus Rasulullah, dan berlepas diri dengan mencaci dan
mengkafirkan para khalifah sebelum Ali dan mayoritas sahabat Nabi, kelompok ini
dinyatakan sesat oleh para ulama namun tidak mengkafirkan mereka.
3. 3. Syi`ah Za`idiyah, yaitu pengikut zaid bi Ali zainal abidin yang
mengutamakan Ali atas sahabat lainnya namun tetap menghormati Abu bakar dan
Umar sebagai khalifah yang sah.
Umumnya para
ulama sunni menerima madzhab Zaidiyah terutama dalam fiqih dan hadits seperti penerimaan
kitab Naylul Awthar, Irsyad Al-fuhul karya Imam As-syaukani, Subulussalam Syarh
Bulughul Maram karya Imam As-shan`ani, tetapi tokoh sunni seperti KH. Hasyim
Asy`ari (pendiri NU) menolaknya dan menyatakan madzhab Zaidiyah dan Imamiyah
tidak boleh diikuti umat islam dan tidak boleh berpegang pada pendapatnya
karena mereka adalah ahli bid`ah. Oleh karena itu kita harus membedakan Syi`ah
secara umum dan Rafidhah secara khusus
Oleh karena
itu para ulama salaf menegaskan penolakan dan kecaman terhadap golongan
Rafidhah ini, diantaranya:
·
Imam Malik bin Anas (w. 179 H):
“orang yang mencaci maki para sahabat Nabi,
mereka tidak memiliki bagian dalam islam” (as-sunnah vol. 1/493)
·
Imam As-syafi`i (w. 204 H):
“saya tidak pernah melihat seorangpun dari
pengikut hawa nafsu yang paling banyak berdusta dan bersaksi palsu dari pada
syi`ah Rafidhah,” lalu murid beliau bertanya “bolehkah saya sholat
dibelakangnya.?” Beliau menjawab “jangan sholat dibelakang Rafidhah, Qadariyah,
dan Murji`ah.” (siyar a`lam an-nubala vol. 10/31)
·
Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H):
“siapa yang mencaci sahabat, saya
mengkhawatirkan atasnya kekafiran, siapa yang mencaci sahabat Nabi kami tidak
merasa aman atasnya telah keluar dari islam,” Abu bakar al-marrudzi berkata
“aku tanyakan kepada Abu Abdillah (imam ahmad) tentang orang yang mencaci Abu
bakar, Umar dan Aisyah apa hukumnya?” beliau berkata “aku tidak melihatnya
berada dalam islam” (as-sunnah vol. 1/493)
·
Imam Al-bukhari (w. 256 H):
“saya tidak akan sholat dibelakang penganut
jahmiah dan Rafidhah, sama seperti sholat dibelakang yahudi dan nashrani, tidak
boleh mengucapkan salam kepada mereka, tidak dijenguk, tidak boleh dinikahkan,
tidak boleh disaksikan jenazahnya dan tidak dimakan sembelihannya” (khalqu
af`al ibad vol. 1/148 dan vol. 2/33)
·
Imam Abu Zur`ah Ar-razi (w. 264 H):
“jiika anda melihat seseorang yang merendahkan
salah satu sahabat nabi maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq, karena Rasul
menurut kita adalah haq, adn Al-quran juga haq, dan sahabat Nabi yang telah
meriwayatkan Al-quran dan sunnah kepada kita, sebenarnya mereka hendak melukai
para saksi kitauntuk membatalkan kebenaran Al-quran dan sunnah, sebaliknya mencela
status mereka (pencela sahabat) itu lebih berhak karena mereka adalah kaum
zindiq (al-kifayah fi ilmi riwayah hlm. 49)
·
Imam Abu bakar Ibni Al-arabi (w. 543 H):
“orang yahudi dan nashrani tidak menyetujui
persepsi terhadap para sahabat Musa dan Isa, seperti gambaran terhadap kaum
Rafidhah terhadap sahabat Muhammad ketika mereka memvonis sahabat Nabi telah
bersepakat atas kekafiran dan kebathilan” (al-awashim min al-qawashim hlm. 314)
·
Imam Ibnul Jauzi (w. 597 H):
“sikap ekstrim syi`ah dalam mencintai Ali
membawa mereka unutuk membuat hadis-hadis palsutentang keutamaannya yang
kebanyakan justru menjelekkan dan menyakiti beliau, mereka juga merekayasa mazhab
fiqih sendiri dan berbagai khurafat yang menyalahi ijma` dalam banyak masalah
yang cukup panjang bila disebutkan, semuanya merobek ijma`. Iblis telah
mempengaruhi mereka untuk merekayasanya tanpa berdasar kepada asar dan qiyas,
tapi hanya berdasar kepada kasus-kasus, keburukan Rafidhah terlalu banyak untuk
dihitung” (talbis iblis hlm. 136-137)
·
Imam As-syaukani (w. 1250 H):
“ketahuilah bahwa kejahatan Rafidhah dan
bid`ah buruk mereka menyebabkan buntut paling buruk dan celaka yang paling
jelek, ketika mereka mengetahui Al-quran dan sunnah menyerukan kerugian dan
kehancuran mereka dengan suara tinggi, merekapun memusuhi sunnah yang suci dan
mencederai para sahabat yang diridhai Allah, dan mereka jadikan orang yang
memegangi sunnah sebagai musuh ahl bait, mereka telah membatalkan sunnah
seluruhnya dan menggantinya dengan kedustaan-kedustaan yang mengandung cacian
dan celaan kepada sahabat dan orang-orang yang mengusung sunnah, berpedoman
dengannya dan mengamalkannya dari kalangan tabiin dan pengikut mereka dengan
keji sampai mereka dinamakan dengan nashib, yang membenci amirul mukminin Ali
dan putera-puteranya, semoga Allah menjauhkan Rafidhah dan mencongkel mereka” (quthr
al-waliiy fi hadis al-waliiy hlm. 305-306)

0 Komentar